Orangtua saya bukanlah seorang pelukis, namun sejak kecil mereka sudah mengenalkan saya dan saudara-saudara saya pada dunia lukis dengan meleskan kami pada seorang tetangga kami, Pak Slamet, beliau adalah pelukis yang tidak tersohor tapi karya-karya lukisannya bolehlah diacungi 2 jempol. Dari TK sampe SD kami les di Pak Slamet dengan lukisan yang berbahan dasar crayon dan kertas gambar. Kata Pak Slamet, bentuk gambar kami bukanlah tergolong bagus tapi warna-warna goresan crayon kami hidup sehingga bentuk tidaklah lagi menjadi penting. Itulah kata pelukis yang juga tetangga kami saat di Camming dan Takalar Sulawesi Selatan.
Selepas dari Pak Slamet, saya dan saudara-saudara saya sempat pindah ke Surabaya, kampung halaman kami. Waktu itu saya kelas 4 SD, saya dan saudara-saudara saya les melukis di salah seorang pelukis (saya lupa namanya) pokoknya rumahnya di daerah Dukuh kupang Barat. Kami les di sana tidak terlalu lama karena waktu kelas 4 Cawu 2 saya pindah lagi ke Makassar karena urusan pekerjaan Papa.
Di Makassar, saya dan saudara-saudara saya ikut sanggar lukis Ujung Pandang di Benteng Rotterdam. Sanggar lukis itu ternama karena pengelolannya adalah pelukis terkenal di Makassar, namanya Pak Bachtiar. Di bawah bimbingan Pak bachtiar inilah, saya menemukan bakat saya. Berkat belajar di sanggar itu, di SD dan SMP saya, saya dikenal guru-guru pandai melukis sampai kalau ada lomba-lomba saya selalu mewakili sekolah saya saat itu. Walau tidak selalu juara 1, setidaknya Alhamdulillah saat itu ada saja piala yang saya bawa pulang entah juara 2,3 atau harapan. Lukisan saya dan kakak saya saat itu sudah 2 kali terpilih untuk dikirim ikut pameran internasional, satu di Jepang,satunya di Macedonia *lukisannya doang yang dikirm :p*. Oh iya lukisan saya saat itu masih lukisan yang menggunakan crayon dan kertas gambar.
Sekitar pertengahan tahun 2001, saat itu saya kelas 3 SMP, saya naik level di Sanggar Ujung Pandang. Saya tidak lagi memegang crayon tapi sudah diberi kepercayaan untuk memegang kanvas dan cat minyak. Saya masih ingat lukisan pertama saya di kanvas adalah lukisan kembang sepatu warna merah, orange putih dengan background gradasi bitu tua, hijau dan putih. Lukisan itu sekarang sudah diberikan ke salah seorang teman baik mama yang penggemar lukisan-lukisan saya bersaudara.
Salah satu lukisan Kanvas saya yang paling berkesan adalah Lukisan saya yang berjudul "Baju Bodo"...itu karya cat minyak pertama saya yang diikutkan dalam pameran lukisan. Saat itu saya adalah peserta pameran termuda, ukuran lukisan saya juga paling kecil dari yang lain. Lukisan itu bergambar 3 orang wanita memakai baju bodo dengan warna yang berda-beda. Sederhana tapi berkesan. Gak nyangka lukisan saya itu laku dibeli padahal awalnya saya ga terlalu mikir lakunya mengingat peserta pameran lainnya itu jauh lebih profesional dan harga lukisannya berkelas...lha punya saya? saat itu hanya dijual Rp 55.000,-...hemm, atau karena murah meriah malah dibeli hehehe.
Tahun 2003, saya lulus SMP dan saya kembali ke kota kelahiran saya, Surabaya. Karena kondisi yang tidak kondusif, sejak itulah sampai sekarang saya membuat tulisan ini, saya tidak pernah lagi melukis. Belum pernah lagi tangan kiri saya memegang palet yang berisi cat minyak dengan beragam warna, dan tangan saya beum pernah lagi mengenggam kuas dan melukiskan cat-cat itu ke dalam kanvas.
Mungkin saat ini kalau saya disuruh melukis lagi, tangan-tangan saya sudah kaku, sudah lupa tehnik-tehniknya .....karena itu, salah satu impian saya, suatu saat kalau saya punya waktu kosong lagi dan suasana sudah kondusif, saya ingin belajar lagi melukis. Suatu saat, saya ingin menghidupkan kembali jiwa saya di dunia lukis. Smoga....Aaamiin :)
Minggu, 06 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


2 komentar:
waaah.. ternyata punya bakat seni yang oke punya niy.. ngelukis lagi atuh.. sayang nggak dikembangin.. ^^
Alhamdulillah mba....iya pengen banget belajar melukis lagi..lagi nyari waktu dan tempat les yg tepat hehe
Posting Komentar