Selasa, 09 Desember 2008

Novel Khaled Hosseini part 1


Novelnya bagus banget!!! ^_^….. Dengan gaya bahasa yang indah banget, semua kisah diceritakan dengan detail dan gak sia-sia. So, kita seolah-olah diajak masuk ke lorong-lorong kehidupan Afghanistan jadi secara gak langsung kita mengenal negri yang sampe sekarang masih menuai konflik itu……
Bagi yang belum baca novelnya, niy aku buat resensinya…..



" Selalu Ada Jalan Menuju Kebaikan"


Judul Buku: The Kite Runner
Pengarang: Khaled Hosseini
Penerbit: Qanita
Tebal Buku: 496 halaman

Pasthun memposisikan diri sebagai ‘pemilik’ Afghanistan, dan Hazara hanyalah suku yang dinomor duakan yang harus bertekuk lutut di hadapan mereka. Itulah fakta sebuah negeri yang pernah berada di bawah kekuasaan Taliban.



Amir, seorang Pasthun menghabiskan masa kecilnya dengan Hasan, anak pelayannya, Ali yang seorang Hazara. Hasan adalah satu-satunya sahabat terbaik Amir begitu pula sebaliknya. Saat itu Afghanistan di bawah kepemimpinan Daoud Khan, musim dingin menjadi saat-saat yang paling ditunggu-tunggu bocah Kabul. Layang-layang beterbangan menghiasai langit Kabul.


Turnamen layang-layang adalah event yang paling dinanti semuluruh warga Kabul. Amir yang turut serta, berhasil memenangkannya. Sesuai tradisi, layang-layang yang jatuh menjadi pemilik yang mendapatkannya. Hasan adalah pengejar layang-layang terbaik dan dia berlari untuk layang-layang kemenangan Amir.
Hari sudah semakin petang dan Hasan tak kunjung tampak di hadapan Amir dengan membawa layang-layang itu. Dalam pencarian, Amir menemukan Hasan di gang itu, tiga pria berbadan lebih besar dari mereka berdiri di Hasan. Ia melihat Hasan dianiaya.
Amir mengkhianati Hasan. Dia tidak masuk ke gang itu dan melakukan pembelaan untuk Hasan dan menerima apa saja yang akan menimpa dirinya. Amir melarikan diri.


Sejak saat itu rasa bersalah terus mengantui Amir. Amir mencoba menghapus bayang-bayang Hasan dalam kehidupannya. Setelah Hasan pergi, Amir mengubur semua masa kecilnya dan merajut kehidupan baru di Amerika. Namun, Amir tak kuasa melawan badai, kenangan itu kembali menguak ke permukaan hidupnya.


Di tengah kehidupan Afghanistan yang tinggal sisa puing-puing kehidupan, Amir mencoba menemukan kembali jalan menuju kebaikan.


0 komentar: