Senin, 13 Juli 2009

Prihatin Sinetron Indonesia

Dulu waktu aku kelas 4 SD (sekitar tahun 1997), ada sinetron yang episode awalnya bagus terus lama-lama ceritanya makin gak jelas, melebar, menyempit seenaknya sampai enek ngeliatnya. Dan akhirnya sinetron itu tamat setelah tujuh tahun tayang di stasiun TV yang sama. Sebut aja sinetron itu ”RSJ”.

Setelah RSJ tamat, aku pikir..itu adalah momen matinya sinetron gak bermutu dan gak mendidik di Indonesia. Tapi, ternyata setelah itu malah makin bermunculan sinetron-sinetron sejenis. Walaupun tayangnya gak selama RSJ, tapi tetap aja ceritanya gak rasional, gak mendidik dan bisa membuat aku emosi (marah-marah, ngomel-ngomelin dan mengumpat-umpat ke sinetron itu).

Sekarang aja, kalau kita lihat TV susah banget nemuin sinetron yang bermutu. Ceritanya penuh dengan penindasan dan pelecehan orang baik, tipu muslihat, anak-anak SMA/sekolah yang bertengkar cuma karena cowok, pakaian SMA/kuliah yang mini, dsb. Pokoknya gak mendidik lah....Yach, walaupun semua orang di dunia emang gak semua baik tapi kenyatannya gak berlebihan kayak di sinetron

Tahu gak? gimana ceritanya mau bermutu, lha syutingnya aja rata-rata kejar tayang trus script-nya aja dadakan, dan bisa diubah mendadak saat syuting jadi ceritanya sering gak nyambung (info ini aku dapat dari salah satu koran). Parahnya lagi, gak pernah ada peringatan resmi dari pemerintah tentang siaran-siaran gak bermutu kayak sinetron-sinetron itu. Padahal seharusnya, production house atau pemerintah juga sadar kalau tayangan2 macam gitu bisa membawa efek buruk ke psikologis penontonnya. Bisa jadi orang-orang yang nonton sinetron belajar giman caranya menjatuhkan lawan, memfitnah orang dan efek2 buruk lainnya. Huh, memprihatinkan.

0 komentar: