Sabtu, 14 Februari 2009

Fenomena Ponari

Setiap hari sejak Januari lalu, puluhan ribu manusia yang mengantre untuk berobat di tabib cilik Ponari selalu terpampang di berita-berita TV dan koran. Aku sampai heran, sehebat apakah batu itu sampai puluhan ribu orang rela antre berjam-jam di bawah panasnya terik matahari dan basahnya hujan demi secelup batu ,bahkan empat korban tewas dalam antrean tidak membuat jera. Aparat yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di tempat praktik Ponari saja sudah kewalahan mengatasi kemauan keras para pasien itu.

Hal terparah yang dilakukan oleh pasien-pasien Ponari, yang paling membuat saya geleng kepala adalah beberapa dari mereka meminum air mandi Ponari dan ada juga yang meminum air hujan yang kotor dari terop rumah Ponari sejak praktek Ponari ditutup(sumber: Jawa Pos 13-2-09). Gak Waras. Ternyata ketergantungan mereka pada Ponari sampai membuat mereka gak rasional dan gak mampu berpikir jernih, padahal seharusnya hanya pada Allah lah kita bergantung :). Ini adalah gambaran pola pikir masyarakat Indonesia yang memprihatinkan. Gak bisa dipelak, masyarakat pedesaan di negara ini memang punya kecenderungan masih percaya dengan hal-hal mistis. Makanya gak heran kalau mereka-mereka itu bersikap demikian (terlalu melebih-lebihkan dengan meminum air selain air batu Ponari). Akhirnya perbuatan mereka berbau bid’ah.

Di sisi lain, sebenarnya pengobatan Ponari ini menjadi berkah tersendiri dari Tuhan bagi Ponari dan keluarganya. Menurut Reportase trans TV, setiap hari praktek Ponari kedatangan sekitar 50.000 pasien (belum yang menitip), dimana tiap pasien biasanya memberi uang amal setidaknya Rp.1000,- per-kepala. Jadi kalau dihitung-hitung, pendapatan Ponari seharinya bisa mencapai Rp.50.000.000,00. Dalam seminggu, uang itu bisa mengubah 180˚kehidupan ekonomi keluarga Ponari yang menengah ke bawah. Bukankah ini karunia Allah.

Namun, sayangnya, keadaan ini secara gak langsung mengakibatkan eksploitasi Ponari. Gara-gara tiap hari dituntut tuk buka praktek, Ponari gak bisa sekolah. Padahal, masa depan Ponari gak bisa bergantung sepenuhnya pada batu “ajaibnya”. Dia harus sekolah, biar berpendidikan dan menjadi manusia yang produktif. Karena itu, aku setuju kalau praktik Ponari ditutup atau setidaknya dibuka pada hari libur saja (itupun manajemen penerimaan pasiennya diperbaiki biar gak makan korban lagi).

0 komentar: