Salah satu orang yang kebaikan dan jasanya gak bisa aku lupain sampe sekarang adalah guru ngajiku, Pak Haji Kasi’. Beliau adalah guru ngaji di Taman Pedidikan Al-Qur’an (TPA) yang berada di sebelah rumahku di kompleks PG.Takalar. Beliau adalah orang yang sangat sabar dan bersahaja. Selama menjadi muridnya, belum pernah sekalipun aku melihat beliau marah. Padahal murid-muridnya bisa dibilang bandel-bandel. Apalagi santri cowok, mereka adalah biang kegaduhan di TPA, di tengah-tengah ngaji mereka suka ngusilin santri cewek atau kalau nggak mereka saling pukul-pukulan dan kejar-kejaran.
Menghadapi kenakalan anak-anak itu Pak Kasi’ Cuma bilang dengan suaranya yang super lembut, “Ayo, nak duduk lagi ke tempatnya masing-masing, jangan lari-lari nanti jatuh!”. Sabar banget.
***
Selain santri cowok, Pak Kasi’ juga punya dua santri cewek yang juga gak kalah bandel dengan santri cowok, cuma dalam bentuk lain. Mereka adalah aku sendiri dan sahabatku, Lia. Kita berdua adalah santri yang paling rewel dan paling banyak tanya alias cerewet. Kalau ngaji kita paling sering nawar supaya ngajinya cepat selesai. Dan paling parah kalau Pak Kasi’ pulang, kita berdua sering minta Pak Kasi’ untuk membawa kita keliling kompleks dengan sepeda motor merahnya. Dengan sabar dan telaten, beliau mengiyakan dan membawa dua bocah ’ gila’ ini keliling kompleks lalu kita yang seperti anaknya sendiri ini, diantar pulang.
***
Satu lagi kenangan tentang beliau yang berkesan adalah waktu aku bertanya tentang AIDS. Sebelum berangkat ngaji, aku sempat nonton TV yang nayangin iklan tentang AIDS berkali-kali. Akhirnya waktu sesi tanya jawab di TPA, aku nanya ke beliau, “Pak Guru, AIDS itu apa sich, kok di TV bilang mematikan?”, Lalu dengan suara lembutnya, beliau menjelaskan sambil menulis di papan tulis “ AIDS adalah penyakit berbahaya yang merupakan singkatan dari Angkuh, Iri, Dengki dan Sirik. Jadi kalian harus menjauhi semua sifat-sifat buruk itu agar kalian selamat”. Lau aku bertanya lagi, “itu kan nama-nama penyakit hati, kok bisa mematikan ya Pak?”. Sambil tertawa beliau menjawab, “iya Nak karena penyakit itu menjauhkan kita pahala dan ridha Allah”.
Gara-gara itu sampai kelas 4 SD, aku masih ngira kalau AIDS itu singkatan dari Angkuh, Iri, Dengki dan Sirik. Hehehe....
Menghadapi kenakalan anak-anak itu Pak Kasi’ Cuma bilang dengan suaranya yang super lembut, “Ayo, nak duduk lagi ke tempatnya masing-masing, jangan lari-lari nanti jatuh!”. Sabar banget.
***Selain santri cowok, Pak Kasi’ juga punya dua santri cewek yang juga gak kalah bandel dengan santri cowok, cuma dalam bentuk lain. Mereka adalah aku sendiri dan sahabatku, Lia. Kita berdua adalah santri yang paling rewel dan paling banyak tanya alias cerewet. Kalau ngaji kita paling sering nawar supaya ngajinya cepat selesai. Dan paling parah kalau Pak Kasi’ pulang, kita berdua sering minta Pak Kasi’ untuk membawa kita keliling kompleks dengan sepeda motor merahnya. Dengan sabar dan telaten, beliau mengiyakan dan membawa dua bocah ’ gila’ ini keliling kompleks lalu kita yang seperti anaknya sendiri ini, diantar pulang.
***
Satu lagi kenangan tentang beliau yang berkesan adalah waktu aku bertanya tentang AIDS. Sebelum berangkat ngaji, aku sempat nonton TV yang nayangin iklan tentang AIDS berkali-kali. Akhirnya waktu sesi tanya jawab di TPA, aku nanya ke beliau, “Pak Guru, AIDS itu apa sich, kok di TV bilang mematikan?”, Lalu dengan suara lembutnya, beliau menjelaskan sambil menulis di papan tulis “ AIDS adalah penyakit berbahaya yang merupakan singkatan dari Angkuh, Iri, Dengki dan Sirik. Jadi kalian harus menjauhi semua sifat-sifat buruk itu agar kalian selamat”. Lau aku bertanya lagi, “itu kan nama-nama penyakit hati, kok bisa mematikan ya Pak?”. Sambil tertawa beliau menjawab, “iya Nak karena penyakit itu menjauhkan kita pahala dan ridha Allah”.
Gara-gara itu sampai kelas 4 SD, aku masih ngira kalau AIDS itu singkatan dari Angkuh, Iri, Dengki dan Sirik. Hehehe....


0 komentar:
Posting Komentar