Kamis, 05 Februari 2009

Demokrasi Indonesia Berduka

Peristiwa tewasnya Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat dua hari yang lalu, membuat aku sebagai mahasiswa prihatin dengan kondisi demokrasi di Indonesia. Tragedi itu benar-benar menodai demokrasi di Indonesia. Masyarakat hanya bisa menuntut demokrasi terwujud di negeri ini sementara masyarakat sendiri masih banyak yang gak mampu berpikir secara intelektual, mudah diprovokasi, saling menuding dan anarkis, seperti pelaku demonstran di gedung DPRD Sumut kemaren. Benar-benar seperti orang tak bermoral atau memang tak punya moral.

Coba lihat akibat peristiwa kemaren, apa yang mereka dapat dengan demonstrasi anarkis macam itu. Tuntutan mereka tidak terselesaikan bahkan merugikan orang lain, memukul dan meninju Ketua DPRD bahkan saat beliau sudah jatuh tergeletak masih dianiaya dengan tuduhan pura-pura. Akibatnya beliau yang saat itu sedang mengemban tugasnya sebagai Ketua DPRD tewas akibat serangan jantung yang dipicu oleh penganiayaan yang ditujukan pada beliau. Sungguh kelewatan.

Dengan peristiwa itu, tuntutan terhadap terbentuk Provinsi Tapanuli (Protap) justru akan semakin berkurang simpatisannya.
Kalaupun mereka kecewa karena tuntutan mereka diabaikan selama bertahun-tahun, bukan berarti kekerasan adalah jalan keluar terakhir. Masalah ini masih diperjuangkan secara diplomasi dalam sebuah forum dengan kepala dingin tanpa harus menyakiti pihak tertentu.

Secara hukum para pelaku demonstran itu bisa mendapat keringanan hukum tapi dengan Tuhan saya yakin kalian punya perhitungan sendiri karena telah menyakiti hamba-Nya yang tak bersalah.

Saya juga menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya Bapak Abdul Aziz Angkat. Semoga Beliau diterima di sisi Allah SWT.
***

7 komentar:

MUKIYO mengatakan...

Salut,
Kalian masih belia tapi mau memperhatikannasib negeri ini.
Semangat, ya. Bangun negerimu, Bangsa kita tercinta.
Salam kenal.

Putri Erdisa Januarti mengatakan...

aku juga salut. bahasa kk bagus banget. mengalir dengan baik sekali. suer! :D
well, aku juga prihatin banget sm mahasiswa2 nonintelek kayak mereka para demonstran sinting itu! entah apa yg ada di pikiran mereka ya. DO sih udah pasti di tangan tuh! hahaha.
terus nulis ya ka. aku link di blog aku. :D

Blog Watcher mengatakan...

ANARKISME DEMOKRASI TAPANULI

Betapa sombongnya kamu… Betapa angkuhnya kamu… meniti titian demokrasi berlumurkan anarkisme dan kemurkaan.

Tapanuli, 3 februari 2009. Ribuan demonstran merangsik masuk gedung dewan. Merusak, anarkisme. Ketua DPRD, Abdul Aziz Angkat tewas dalam kejadian tersebut.

Mendengar berita itu, aku langsung terkulai lemas. Seolah tak percaya. Semua bayangan indah demokrasi, telah lenyap dari alam fikiranku. Anarkisme kaum bar-bar bersembunyi di balik kata-kata kebebasan berpendapat.

Batinku merintih perih, penuh luka, karena kepentingan sekelompok golongan, mengakibatkan luka hati yang dalam, dalam sekali dan sukar di pulihkan. Awan hitam sedang menyelubungi jalan demokasiku.

Tapanuli, 6 februari 2009.

Tiga hari setelah nya, dengan berkeras faham, kucoba kembali menata setiap kepingan yang tersisa, puing-puing sisa kekerasan masih melekat disana. Satu demi satu ku bersihkan. Dengan tujuan manjadi jalan kedepan bagi kebebasan demokrasi negeriku.

sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

Anonim mengatakan...

Kalau ada yang harus di persalahkan, maka salah kan lah POLISI yang kurang tanggap dengan kejadian ini

kalau ada yang harus menerima hukuman, maka hukum lah para demonstran yang anarkis di atas nama rakyat itu.

kalau ada yang di harus disebut perusak demokrasi maka merekalah para mahasiswa yang SOK MENYUARAKAN KEPENTINGAN RAKYAT padahal mereka hanya PREMAN BERKEDOK MAHASISWA....

Aku juga mahasiswa, tapi aku masih bisa berpikir jernih menanggpi masalah global yang ada di negeri ini, DEMONSTRASI its oK..boleh saja.tapi apakah dengan anarkis itu BUKAN NYA BERARTI MASYRAKAT YANG DIrUGIKAN?

bayangkan saat peralatan di GEDUNG di hancurkan, kaca dipecahkan, menja patah,dan aparat polisi dilempari botol...

APAKAH INI DEMOKRASI YANG DI BANGGAKAN DAN DIAGUNGKAN PARA MAHASISWA??

JAWABANNYA TANYA SAMA MAHASISWA YANG SOK MEMBELA RAKYAT ITU...

saat ini beruang demi negara dapat kita mulai dari diri kita pribadai. menjadi warga negara yang baik..berusaha mengharumkan nama bangsa apapun caranya asal mulia...

Yah itulah realita mahasiswa berkedok kepentingan rakyat..

bukan berarti membela para politikus, bukan juga berarti menjatuhkan citra para mahasiswa..

TAPI HARUS BERAPA BANYAK LAGI KORABAN YANG HARUS DI TUMBALKAN DEMI KEPUASAN MAHASISWA???

BERAPA BANYAK LAGI UANG RAKYAT YANG HARUS DI KORBANKAN DEMI KEPENTINGAN POLITIKUS???

Yang paSti Diantara Mahasiswa dan Politikus...tetap ada manusia-manusia suci, baik, dan benar2 menjadi warga negara yang baik..
Yah...PERCAYALAH....


(buset..kata2 gue lumayan juga yah wkaakkakak....tapi its ok lah buat Mbak Kylanti...salam kenal yah) aku link blognya..

saling tukar bahan cerita yah..

See You ini my Shout BOx

Anonim mengatakan...

Indonesia, Indonesia, kasihan benar. aku juga shock melihat itu. benar-benar bikin panas. orang yang benar-benar mengamalkan demokrasi ngga bakal mengandalkan kekerasan.

babigoblook mengatakan...

blooogwalllkiiing...


salam kenal ya...

Brawijaya mengatakan...

demokrasi di Indonesia ini masih berusia muda, jadi masih bertingkah keanak-anakan. ya kita beranalogi saja dengan proses kita bertumbuh jadi dewasa, yang awalnya masih dituntun, di jaga oleh orang tua, dibatasin untuk melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan pemikiran orang tua lalu bertumbuh jadi ABG (anak baru gede) dan barulah bersifat dewasa yang sudah mengerti mana yang benar dan salah.

sama seperti di negara Indonesia ini yang awalnya dibatasi oleh pemerintahan yang berkuasa selama 32 tahun, lalu terlepas dalam cakupan yang besar tanpa ada kontrol hukum yang benar-benar hukum, sehingga dalam benak khalayak bertindak bebas adalah bertindak seenaknya sendiri.

negara indonesia ini, masih berdemokrasi yang bersifat baru, jadi belum semuanya merata bisa berpikir demokrasi.

nah sampai disini aja, kalau dikaitkan dengan kasus kematian pejabatan, tidak bisa disalahkan satu oknum saja (mahasiswa) tetapi bisa juga menyalahkan pejabat-pejabat.

bentrokan tersebut bisa saja dipicu oleh tidak disiplin kinerja pejabat disana, atau tidak memntingkan hak rakyat.

rakyat lapar, lalu marah...

satu kunci, hukum di Indonesia harus benar-benar hukum